Baju warna merah dan tas merah jambu yang dikenakan Marito membuat perjalanan mereka lebih cerah. Jalan yang disusuri memang sangat sepi.
Kesepian itu menjelma di hati mereka masing-masing. Terutama ayah Marito, dia mencoba untuk tetap kuat menggendong putri kecilnya. Meneluri setapak jalan diantara hembusan angin dan hujan yang jatuh sedemikian rupa. Ayahnya mempercepat langkah.
Marito kegirangan dengan air hujan yang membasahi kepalanya. Marito juga gembira melihat burung-burung yang pulang ke sarangnya. Begitulah keseharian Marito dan ayahnya. Menelusuri jalan sunyi ke dermaga.
Dermaga menjadi tempat mencari makan sekaligus tempat menanti Inang. Hari ini mereka tak menerima kabar bahagia. Hanya ada air mata yang menjadi jawaban dari perjalanan mereka.
"Ayah apakah perjalanan kita masih jauh?"
“Tak jauh, hanya saja belum saatnya sampai,” balas ayahnya.
Kemudian ayahnya menatap Marito. Matanya sayu. Seperti mengeluarkan air mata. Betapa tidak, sejak kepergian istrinya, putri kecilnya kini selalu dalam dekapannya.
Hari-harinya selalu dalam penguatan batin. Sementara Marito masih menanti kehadiran Inang yang ia sangka sedang dalam perjalanan. Perjalanan yang akan membawa kebahagiaan.
Namun malah sebaliknya. Ayahnya mencoba untuk menghibur putrinya yang masih rindu akan dekapan seorang Inang.
Peristiwa naas itu memang tak bisa dihindarkan. Ketika Inang bepergian dan menyeberang danau untuk bekerja di Tomok nasib tak seindah pelangi saat itu.
Perahu yang di tumpangi Inang mengalami kecelakaan di danau. Terombang ambing, saat itu juga hujan yang lebat datang. Angin berhembus dan selilingnya berkabut. Omban saling mengejar, mencari nyawa yang akan dibawa.
Kapal itu pun terbalik. Kabar duka kemudian terdengar oleh ayah Marito. Saat itu hanya air mata yang dapat menghiasi hari-hari sang ayah.
Sejak saat itu pula Marito menanyakan tentang Inang. Sementara lelaki paruh baya itu membatin tentang nasibnya yang memainkan dua peran berbeda.
Suatu malam yang sepi, saat itu hujan turun membasahi tanah. Pecah dan jatuh berhambur bersama riak airnya. Marito saat itu duduk di beranda rumah. Memperhatikan air hujan yang turun sedemikian rupa.
Di matanya selalu terbayang perjalanan untuk menemui Inang. Walau ia tak tahu kemana Inang pergi. Dipikiran Marito Inang sedang dalam perjalanan. Jawaban yang selalu ia dapatkan dari ayahnya.
Beberapa saat kemudian ayahnya membawa teh hangat di dapur sambil menyiapkan gorengan untuk disantap berdua. Perlahan langkah ayahnya mendekatinya. Wajahnya tampak cerah melihat putrinya.
"Marito, ayok dimakan gorengannya," ajak ayah.
Marito melemparkan senyum kecil, kemudian tangannya mulai mengambil sebiji gorengan. Dia kembali melempar senyum kepada ayahnya. Perlahan gorengan itu memasuki mulutnya.
Wajahnya tampak bahagia. Seketika masakan ilmu saat itu datang menjumpainya.
"Persis kayak masakan ibu, apa ibu yang masak Yah," ucap Marito.
Mendengar kalimat polos yang keluar dari lisan Marito. Mata ayahnya berlinang. Kemudian lanjut memeluk erat Marito.
Pelukan itu sangat hangat. Marito menikmatinya. Kemudian ayahnya kembali meyakinkan putrinya.
"Iya, ini buatan ibu," ucap Ayah. Menguatkan dirinya sendiri.
Sore itu hujan pun semakin deras. Udara dingin pun mulai terasa hadir di tengah percakapan mereka. Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah. Pintu di tutup rapat.
Hingga malam yang panjang tiba. Keduanya terlelap bersama kenangan gorengan ibu. Ayahnya tak jarang mengeluarkan air mata. Apalagi harus berbohong demi menutupi kepergian Inang Marito.
Saat Marito tertidur lelap, ayahnya beralih ke kursi goyang di dekat kamar. Lama ia memperhatikan kursi itu. Mencoba meraba perjalanan kenangan bersama keluarga kecilnya.
Ia duduk, menarik sebatang kretek. Kemudian lama ia berbicara dengan kata-kata rindu.
"Sahrona, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku. Sementara Marito masih membutuhkan pelukanmu." Ucapnya.
Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundaknya. Ia menoleh ke belakang. Ternyata itu adalah Marito. Wajah Marito terlihat kusut sebab baru bangun.
"Ayah, besok kita ke dermagakan, menunggu perjalanan jauh Inang? Inang pasti pulang kan yah? Iya yah?”
"Ia perjalanan ibu sudah selesai. Besok ibu datang," balasnya.
Kemudian keduanya kembali ke tempat tidur. Marito dipapah ayahnya ke tempat tidur.
Keesokan paginya, baskara menyambut dengan senyum merona. Walau rintik hujan datang mereka tetap pergi dermaga di tepi danau. Ayahnya menggendong Marito.
Walau kakinya sudah kaku untuk berjalan. Dia bingung tentang apa yang akan dia tunjukkan kepada Marito nantinya.
Dengan menggopoh Marito kecil, mereka melangkah dengan wajah yang bahagia. Marito pun terlihat bahagia. Sebab perjalanan Inangnya sudah usai.
Setelah melewati perjalanan dari rumah. Mereka pun sampai di dermaga. Marito dan ayahnya menatap ke arah barat.
Di tepi danau yang sunyi, ayahnya mencoba meraba kepergian Inang. Saat itu hujan pun menyertainya, lamat-lamat ia perhatikan gelombang danau yang saling mengejar.
Sementara Marito mengeja nama Inang, merangkai kenangan kembali dibenaknya. Marito kembali menatap sekelilingnya.
Langit yang saat itu mendung disusul dengan angin yang samar-sama di telinga keduanya. Air danau pun mulai bergelombang.
Tadinya yang rintik kini menjadi lebat. Hujan turun perlahan menyerupai kekasih yang begitu setia. Seperti cara tuhan mengingatkan hambanya tentang titah kebajikan.
Tubuhnya serupa pengantin baru, dikawini hujan yang mengguyur pagi itu. Air mengalir mengikuti lembah di tubuhnya.
Wajahnya mulai kumal perlahan matanya ikut berlinang. Menyusul kedua tangannya saling merangkul. Mencoba menghangatkan badan.
Kabut mulai menghampiri mata keduanya. Pandangan mereka suram. Marito melambaikan tangan, ia melihat bayangan Inang mendekat bersama kapal.
Wajah Marito berbinar, air mata pun turut menyambut kedatangan Inangnya.
“Ayah itu Inang sudah datang!”
“Dimana Nak?”
“Itu Yah,”
Perahu yang dilihat Marito berhenti beberapa meter dari dermaga. Tangan Inang-nya kemudian melebar seakan ingin memeluk Marito.
Pelukan yang dirindukan Marito. Kedua tangannya pun melebar. Semakin lebar. Seperti rasa rindu Marito yang semakin luas.
“Marito, perjalanan Inang belum selesai, ayok ikut bersama Inang,” ajak Inang.
Marito menyambut itu dengan senyum bahagia. Wajahnya berbinar. Hujan semakin deras. Langit gelap.
Namun Marito menikmatinya karena Inangnya telah pulang. Marito meninggalkan ayahnya.
Ia berjalan perlahan mendekat ke arah Inangnya. Marito terus melangkah. Langkahnya pasti dan perlahan penuh arti.
“Ayah! Marito pergi bersama Inang,”
Ayahnya menatap haru. Kemudian mengejar Marito. Namun Marito sudah berada di pelukan sunyi bersama Inangnya. Melanjutkan perjalanan tak bertepi. Menelusuri bait-bait sunyi.
Tentang PenulisIkhsan Ritonga, lahir di Roncitan 30 Juli 1998. Bergiat dalam kegiatan sastra dan literasi. Beberapa karyanya dimuat di media massa. Buku yang telah ditulis olehnya, Kumpulan Puisi Catatan Hati Tentang Kepulangan (2019), Setapak Jalan (2018), Senjaku di Sipirok (2017), Menjelajah (Balai Bahasa Sumtera Utara, 2023). Merupakan alumni dari Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. Saat ini juga aktif di Forum Lingkar Pena Sumatera Utara, Rumah Baca Nanggarjati.
Share This :
0 comments