Limbah tekstil adalah limbah yang dihasilkan dari proses produksi tekstil, seperti pengkanjian, penghilangan kanji, pengelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, percetakan dan penyempurnaan.
Secara bahasa, limbah adalah bahan sisa atau buangan dari suatu kegiatan atau proses produksi yang tidak terpakai lagi, tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak berdaya guna.
Tekstil sendiri adalah bahan yang terbuat dari serat alami yang diolah menjadi kain atau benang dan lain-lain. Produk tekstil sendiri dapat dilihat dari barang hingga perlengkapan yang ada di rumah, seperti selimut, pakaian, aksesoris, dll.
Jadi, limbah tekstil dapat diartikan sebagai sisa produksi tekstil, seperti kain perca, pakaian yang tidak terpakai, atau sisa bahan dalam pembuatan busana. Limbah tekstil dapat berupa limbah padat, cair, dan gas.
Limbah Padat
Limbah ini berupa kain yang tidak memenuhi standar kualitas atau tersisa setelah digunakan dalam produksi. Contohnya adalah kain perca, pakaian dalam, celana, kemeja, bed cover,selendang dan aksesoris pakaian lainnya.
Limbah Cair
Limbah ini merupakan limbah yang dihasilkan dari proses pewarnaan kain, seperti zat pewarna, pelarut, dan hasil konsumsi air. Limbah ini dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia.
Limbah Gas
Limbah gas adalah limbah yang dihasilkan dari uap mesin hasil pemrosesan pada industri tekstil.
Dampak Negatif Limbah Tekstil
Limbah tekstil ini dapat membawa dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan kita, diantaranya:
1. Mencemari Lingkungan
Limbah tekstil dapat mencemari tanah dan air karen membutuhkan waktu lama untuk terurai. Limbah ini juga dapat menghasilkan mikroplastik yang tidak dapat terurai secara alami.
2. Mengganggu ekosistem
Limbah tekstil dapat mengganggu keseimbangan ekosistem di perairan dan darat karena limbah tekstil cair yang mengandung Cr dapat menambah jumlah ion logam di air lingkungan, yang dapat membahayakan bagi biota air.
3. Menyumbangkan emisi karbon
Produksi barang tekstil menyumbang 10% dari total emisi karbon.
4. Menguras sumber daya air
Industri fashion merupakan konsumen terbesar kedua penggunaan suplai air di dunia. Contohnya, produksi satu potong jeans saja membutuhkan 7.500 liter air.
5. Polusi udara
Proses produksi barang-barang tekstil menyumbang polusi udara lewat pembakaran, emisi produksi, dan degradasi di TPA yang menghasilkan gas beracun dan gas rumah kaca.
Kerusakan tanah
Limbah tekstil padat yang dibuang ke tanah dapat merusak kualitas tanah melalui kontaminasi bahan sintesis, mikroplastik, dan bahan kimia berbahaya yang mengganggu kesuburan tanah dan ekosistem.
6. Meningkatkan masalah sampah
Pakaian bekas biasanya tidak dapat di daur ulang secara efektif dan banyak yang berakhir di tempat pembuangan sampah.
Jumlah Limbah Tekstil di Dunia
Coba hitung, ada berapa banyak baju yang kamu miliki di rumah? Ada berapa banyak baju berwarna sama yang kamu miliki di rumah? Jilbab yang kamu kenakan?
Celana atau rok yang kamu punya? Atau bahkan berapa banyak sajadah dan sprei yang ada di rumahmu? Tentu banyak bukan? Padahal, kamu hanya memakai sebagian kecil dari keseluruhan pakaian dan kain yang kamu miliki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) pada tahun 2021, Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahunnya yang setara dengan 12% dari total limbah rumah tangga, namun hanya 0,3 juta ton yang didaur ulang.
Presentase sampah kain di Indonesia pada tahun 2022 adalah 2,6% dari total timbulan samoah nasional, atau setara dengan 487,7 ribu ton.
Limbah-limbah ini berasal dari sisa proses produksi di industri tekstil dan rumah tangga yang bersumber dari lumpur yang dihasilkan dari pengolahan lombah secara kimia, sisa kain, sisa minyak dan lateks.
Sedangkan jumlah limbah tekstil di dunia diperkirakan mencapai 92 juta ton pertahun dan 85% limbah tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah tanpa didaur ulang.
Contoh dampak besar limbah tekstil adalah Sungai Citarum di Jawa Barat, Indonesia. Sungai ini dianggap sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia, dimana limbah cair dari sekitar 2.000 pabrik tekstil dibuang setiap hari sehingga menghasilkn 280 ton limbah cair.
Polusi ini berdampak serius pada lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar, termasuk penyakit kulit dan kerusakan hasil panen. Mikroplastik dari limbah tekstil juga ditemuka mencemari ekosistem sungai, mengancam kehidupan biota dan kesehatan manusia.
Penanggulangan
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi limbah tekstil yang ada, salah satunya kita bisa mencobanya dengan metode pengelolaan sampah prinsip 3R yaitu Reduce, Reuse, Recycle.
Contoh kegiatan 3R adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tas belanjaan sendiri ketika berbelanja, membeli barang yang tahan lama, dan menggunakan produk dengan kemasan minimal.
Reduce : Mengurangi penggunaan barang-barang yang dapat menghasilkan sampah.
Reuse : Menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan.
Recycle : Mendaur ulang barang-barang yang tidak bisa digunakan.
Selain itu pengelolaan limbah tekstil di lingkungan industri juga dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu :
Daur ulang
Limbah tekstil yang masih layak pakai dapat dijual atau didonasikan. Limbah tekstil yang tidak bisa didaur ulang dapat diubah menjadi serat daur ulang atau bahan bakar alternatif.
Pengolahan air limbah
Pengolahan air limbah tekstil dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti elektrokoagulalasi, biofilter, dan ozon gelembung mikro.
Pengurangan pemakaian zat kimia
Penggantian zat kimia dapat dilakukan dengan menggunakan kanji buatan, peroksida, dan zat berbasis air.
Mengurangi penggunaan zat kimia
Penggantian zat-zat pendispersi, pengemulsi, dan perata yang menghasilkan BOD tinggi dengan yang lebih rendah.
UPCYCLING
Merupakan proses mengubah barang-barang yang sudah tidak digunakan menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah, manfaat dan kualitas yang lebih tinggi. Upcycling berbeda dengan daur ulang (recycle) karena tidak memecah bahan asli, melainkan menyortir dan menggunakannya kembali dengan cara yang berbeda.
Selain mengurangi limbah, upcycling juga menambah umur barang-barang yang digunakan, mengurangi polusi yang dihasilkan dari proses produksi, meningkatkan nilai estetika dan fungsional dari barang tersebut, juga mengasah kreativitas.
Proses ini dapat dilakukan dengan berbagai macam barang seperti pakaian, furnitur, dan botol plastik. Contohnya pakaian lama dapat diupcycle menjadi kain lap, sarung bantal, tas, bahkan baju model baru. Botol plastik yang telah dibersihkan dapat dipotong-potong menjadi bagian-bagian tertentu dan dirangkai menjadi aksesoris seperti kalung, gelang, hiasan dinding, dan tempat pensil.
Dengan banyaknya dampak negatif yang timbul akibat limbah tekstil, kita harus turut berperan dalam mencegah lebih banyaknya limbah tekstil yang dibuang. Kita dapat memulai dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.
Dimulai dari Kita
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah membeli pakaian yang tahan lama dengan kualitas tinggi sehingga tidak perlu sering mengganti pakaian baru. Memprioritaskan pakaian berbahan ramah lingkungan seperti katun organik atau serat daur ulang. Membeli pakaian-pakaian bekas yang masih layak pakai seperti monza.
Belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan impulsif. Membeli pakaian preloved di toko thrift atau marketplace online untuk mengurangi permintaan produksi baru. Donasikan pakaian yang masih layak pakai ke komunitas amal atau organisasi amal.
Cari tempat daur ulang tekstil untuk pakaian yang tidak bisa digunakan lagi, dan masih banyak lagi. Semoga dengan langkah kecil yang kita lakukan secara rutin dapat menyelamatkan bumi dari pemanasan global.
Tentang PenulisSalvinia Casilda Damanik adalah seorang pelajar dan praktisi pendidikan. Pecinta Detective Conan yang ingin menjadi psikologi kriminal ini menyukai seni dan sejarah. Mulai menulis karena suka membaca dan menuangkan idenya ke buku hariannya. Sibuk berorganisasi dan traveling, ia juga suka menulis di laman blog nya.
Share This :
0 comments